Pulau Madura Keunikan, Keindahan dan Sumber Daya Alam yang Terpendam

Best Products

Other Language

  • Wakil Rakyat


    SURAT BUAT CALON WAKIL RAKYAT

    Sebuah Indzar Dari Rakyat Biasa

    calon-legislatif1

    partai politik

    Untukmu yang duduk sambil diskusi

    Untukmu yang biasa bersafari

    Di sana di gedung DPR

    Wakil rakyat kumpulan orang hebat

    Bukan kumpulan teman-teman dekat

    Apalagi sanak family

    Di hati dan lidahmu kami berharap

    Suara kami tolong dengar lalu sampaikan

    Jangan ragu jangan takut karang menghadang

    Bicaralah yang lantang jangan hanya diam

    Di kantong safarimu kami titipkan

    Masa depan kami dan negeri ini

    Dari sabang sampai merauke

    Saudara dipilih bukan di lotre

    Meski kami tak kenal siapa saudara

    Kami tak sudi memilih para juara

    Juara diam juara he-eh juara haaaaaa

    Reff. Wakil rakyat seharusnya merakyat

    Jangan tidur waktu sidang soal rakyat

    Wakil rakyat bukan paduan suara

    Hanya tahu nyanyian lagu setuju

    Lirik lagu Iwan Fals diatas mungkin tidak asing lagi buat kita, sebagai bentuk sindiran atau mungkin sebagai indzar buat para wakil-wakil kita yang duduk dan akan duduk di Dewan Perwakilan Rakyat.

    Bulan depan, para anggota wakil kita akan dipilih dan tentunya akan menjadi perpanjangan lidah rakyat untuk menyampaikan inspirasi, keluhan, ide, dan suara kita di depan pemerintah. Ini yang tersirat dari lagu “Surat Buat Wakil Rakyat” milik Iwan Fals di atas. Sebab, mereka dipilih secara langsung oleh rakyat, atas kehendak rakyat, bukan atas kuasa “money” yang bisa membeli suara rakyat.

    Fenomenanya sekarang, semua orang ingin menjadi wakil rakyat. Kayaknya sudah tidak ada lagi lapangan pekerjaan selain menjadi DPR atau DPRD. Coba anda bayangkan, untuk DAPIL II di Kab. Bangkalan saja, yang mencakup Kec. Kwanyar, Tragah, Labang dan Burneh, ada 80 lebih Calon Legislatif yang mau duduk di DPRD. Padahal kursi yang diperebutkan hanya 8 kursi. Belum lagi daerah-daerah lain, yang tentunya sama dan mengkin lebih banyak.

    Subhanallah, semua orang sudah tidak ingin menjadi orang biasa, yang hidup dengan kesederhaan, bermasyarakat dan duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Padahal, tanggung jawab sebagai seorang Wakil rakyat adalah lebih berat dari pada tanggung jawab menjadi orang biasa. Mereka, para wakil rakyat, tidak hanya bertanggung jawab untuk rakyatnya saja, namun mereka juga bertanggung jawab untuk profesionalisme.

    Bicara tentang sebuah profesiolisme, kalau dulu seorang wakil rakyat memang dipilih dari orang yang benar-benar professional, tokoh masyarakat, berwibawa dan memang dipilih (benar) oleh masyarakat/rakyat. Namun sekarang, para calon wakil rakyat lahir dari berbagai latar belakang dan tujuan yang berbeda-beda serta partai politik yang berbeda pula.

    Intinya, seorang wakil rakyat yang terpilih semoga bukan hanya hadir, duduk dan mendapatkan gaji, tunjangan, dan lain-lainnya, mereka harus benar-benar menjadi wakil rakyat yang selalu menampung serta menyampikan kehendak rakyatnya.

    Pernahkah kita membaca sebuah kisah Kholifah Harun Ar-Rasyid yang enggan memakai fasilitas negaranya untuk kepentingan dirinya ?

    kursi wakil rakyat

    kursi wakil rakyat

    Akhiron, Semoga para wakil rakyat yang duduk dan akan duduk di bangku DPR dan DPRD menjadi orang terpilih “min khiyarin nas” yang selalu berpihak pada rakyat, umat dan bangsa. Sebagai bentuk dedikasi penuh kepada umat, sehingga gaji dan tunjangan yang didapat oleh para wakil rakyat, benar-benar hasil jerih payah dan nilai profesionalismenya, bukan dari gaji buta.

    Dan semoga, dalam menyongsong pesta demokrasi ini, suara rakyat yang notabene adalah penentu duduk tidaknya para wakil-wakil rakyat tersebut, tidak bisa dibeli dan ditukar dengan uang. Sebab jika suara kita dapat dibeli, kita sebagai rakyat jangan terlalu banyak berharap dari DPR dan DPRD yang membeli suara kita, –secara tidak langsung-mereka akan berkilah ” saya kan sudah membeli suara anda “.

    Biarlah rakyat memilih dan menentukan wakilnya sendiri di DPR dan DPRD. Sesuai dengan keinginan dan kepercayaannya. Sebab kapan lagi kita belajar bebas dan merdeka dalam memilih, kalau bukan dari sekarang? Wallahu a’lam.


    Published on March 13, 2009 · Filed under: General; Tagged as: , , , , ,
    No Comments

Leave a Reply